Kamis, 07 Januari 2010

SISTEM ROBOT UNTUK DAERAH BENCANA

Bencana tsunami yang menimpa Aceh membuat ribuan relawan berangkat ke sana untuk membantu mengatasi segala persoalan pascabencana. Di masa datang, mungkin relawan yang dibutuhkan tak perlu sebanyak itu. Andai saja kita punya relawan yang tak kenal lelah meski tanpa makan dan minum.
Setelah terjadi gempa bumi diikuti gelombang tsunami di Aceh dan beberapa negara di kawasan Asia Selatan dan Tenggara, ratusan ribu nyawa melayang sebagai korbannya. Infrastruktur kota rusak, bantuan terhambat datang, sementara mayat semakin membusuk. Dalam beberapa hari setelah bencana, ancaman lain muncul, yaitu wabah penyakit dari pembusukan jasad manusia, makanan, ataupun binatang.
Para relawan kemudian mengenakan pakaian pelindung dan masker guna menghindari kontak fisik dengan jasad ataupun menghirup udara yang tercemar. Saat yang sama, para relawan dan pengungsi membutuhkan air minum higienis. Sayangnya, sumber-sumber air yang ada tidak berfungsi. Membersihkan jalan-jalan di kota juga menjadi masalah karena keterbatasan kendaraan yang mampu memindahkan beban berat.
Bencana adalah peristiwa darurat di luar perkiraan dan tidak diharapkan, yang membutuhkan penanganan dengan cara-cara di luar kebiasaan. Biasanya sumber daya untuk penanganan bencana terbatas, terlebih di lokasi yang sulit untuk dijangkau alat transportasi biasa.
Karenanya, perlu dipikirkan sumber daya penanganan bencana dengan persyaratan: tidak mengenal lelah, memiliki tenaga kuat, tidak membutuhkan makanan, mampu bergerak cepat, tahan terhadap penyakit, mampu dikoordinasikan dengan cepat, dan... ramah. Tanpa bermaksud mengecilkan arti perjuangan relawan di Aceh dengan segala risiko dan pengorbanannya, pemikiran penggunaan robot sebagai tenaga relawan di masa mendatang menjadi sangat penting. Robot memenuhi persyaratan seperti disebutkan di atas.
A. Pertemuan antara sains dan fiksi
Abad ke-21 disebut-sebut sebagai abad robotika, abad ketika mesin cerdas sudah banyak menggantikan peran manusia. Penggunaan robot memiliki banyak maksud, seperti mengambil alih pekerjaan yang memerlukan tenaga besar, ketelitian dan risiko tinggi, membantu pekerjaan sehari-hari mulai dari membersihkan rumah, mematikan perangkat elektronik, atau sebagai bentuk hiburan.
Kehadiran robot tidak bisa dilepaskan dari imajinasi manusia yang tertuang dalam novel ataupun film, yang dinamakan fiksi ilmiah. Beberapa cerita fiksi ilmiah yang menampilkan robot dan meledak di pasaran, seperti Star Wars, Star Treks, Robocop, dan yang terbaru I, Robot, mencoba memberi usulan bahwa di masa depan mesin cerdas itu akan menjadi "bagian keluarga" manusia.
Kini sudah banyak robot yang diciptakan dengan bantuan perkembangan terbaru sains dan teknologi. Beberapa di antaranya adalah:
NEC membuat robot pribadi untuk konsumsi rumah tangga, yaitu PaPeRo (Partner-type Personal Robot) yang memiliki kemauan, bisa memilih, dan berekspresi. Robot ini dirancang bisa bersosialisasi dan hidup bersama manusia dikarenakan mampu memahami 650 kata yang didengar dan berbicara lebih dari 3.000 kata. PaPeRo juga mampu mengenali wajah lawan bicara, belajar melalui internet meskipun tanpa memakai keyboard, mengoperasikan berbagai peralatan elektronik di rumah, seperti mematikan dan menghidupkan TV, membantu belajar anak, dan menolong orang sakit atau cacat.
Perkembangan teknologi semikonduktor dan mekatronika (teknologi mekanika dan elektronika) memungkinkan PaPeRo melakukan semua itu. Robot ini dilengkapi "mata" berupa dua buah kamera yang langsung mengolah apa yang dilihatnya. Misalkan menyadari kehadiran orang dan menganalisa ekspresi orang itu. Juga apakah perlu untuk menyentuh obyek yang dilihat atau tidak.
Ada "telinga" berupa empat buah mikrofon, terdiri dari tiga mikrofon untuk mendeteksi suara dan satu mikrofon untuk memahami instruksi disesuaikan dengan perbendaharaan katanya. Gerakan PaPeRo diatur oleh teknologi mekatronik yang tersusun dari struktur pengontrol dan pengadaptasi. Dilengkapi pula dengan perangkat lunak seperti grafik editor untuk memudahkan memprogram tindakan, dialog, dan perilaku.
Ada pula jenis robot manusia (humanoid dari human android) yang mampu bergerak layaknya manusia seperti Robosapiens buatan Wow Wee Toys Ltd dan bereaksi ketika mendapat sentuhan atau sinyal suara. Robot ini digerakkan melalui remote control. Untuk jenis ini, Korea Selatan mengembangkan HUBO dengan kemampuan berjalan dengan kecepatan 1,25 km per jam, berbicara, dan merespons pembicaraan manusia.
Jika dalam novel Madness Has Its Place (karya Larry Niven, 1990) dan Millenium (John Varley, 1983) dikisahkan terdapat robot dalam dunia pengobatan, kini ada robot yang mampu mengepak obat dengan cepat, yaitu robot bernama ERNIE. Dalam 9 bulan, ERNIE mampu mengepak 400.000 obat dengan bekerja 24 jam sehari.
Robot anjing dalam fiksi ilmiah terdapat dalam Fahrenheit 451 (Ray Bradbury’s Mechanical Hound, 1953). Kini di Tokyo sudah dibuat robot anjing pintar, yaitu Sega Idog dan AIBO. Robot ini mampu bermain musik dan menari.
Jika ada korban terjebak dalam reruntuhan gedung, tidak usah khawatir. Ada robot penyelamat bernama T-52 Enryu dengan tinggi 3,5 m dan berbobot 5 ton bisa segera menolong. Robot yang mampu mengangkat beban seberat 1 tom ini bergerak sesuai dengan gerakan operator, dikarenakan operator telah dilengkapi alat pemrogram gerak jarak jauh. Seketika, gerakan tangan operator diikuti gerakan tangan robot, dan sebagainya. Ide pembuatan robot ini tidak bisa dilepaskan dari cerita fiksi ilmiah Waldo (karya Robert Heinlein, 1942).
Selain contoh di atas masih banyak jenis robot lain. Mulai dari yang berukuran kecil bahkan sudah masuk dalam skala nanometer (sepersatu miliar meter) hingga berukuran sangat besar.
B. Robot berperasaan
Di masa depan, enggak bisa dimungkiri bahwa robot akan memiliki perasaan. Film terbaru 20th Century Fox, yaitu I, Robot (dengan bintang utama Will Smith), menggambarkan robot bernama Sonny yang punya perasaan dan mampu mendeteksi perasaan manusia.
Jauh hari sebelum kehadiran Sonny, dalam dunia fiksi ilmiah ada komputer yang mampu mendeteksi perasaan manusia, yaitu HAL 9000 dari novel dan film 2001: A Space Odyssey. Kini sebuah perusahaan Skotlandia, yaitu Affective Media Limited, menciptakan komputer yang bisa menganalisa emosi manusia melalui suara yang diterimanya dengan tokoh animasi kura-kura yang bernama Tetchy the Turtle. Suara yang dikeluarkan manusia memiliki pola getaran tertentu yang mencerminkan perasaan manusia. Suara yang masuk melalui mikrofon akan dianalisa oleh komputer dan ditentukan kadar emosinya.
Komputer jenis ini nantinya akan diintegrasikan dengan robot sehingga akan menghasilkan robot seperti Sonny. Robot yang memiliki perasaan, memahami perasaan manusia, memiliki tenaga kuat, dan mampu bergerak cepat. Robot jenis ini pula yang akan bisa memberi masukan kepada manusia untuk membuat keputusan dengan rasional ketika manusia emosional karena dilanda kepanikan. Robot mampu mencegah keputusan emosional, seperti dilakukan HAL 9000 terhadap Dave Bowman, komandan pesawat ruang angkasa.
Jadi, dengan melihat itu semua, sangat mungkin nantinya apabila terjadi bencana, robot bisa membantu mengatasi banyak kelemahan atau kekurangan manusia. Asal jangan sampai manusia dikendalikan robot atau mengendalikan robot untuk niat-niat yang jahat.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar